Kritis vs Bersyukur

Apakah orang yang pinter selalu ditandai dengan banyak omong?? Kadang pas liat orang mengeluarkan statement-statement yang bagus, yang berbobot, dan kalo perlu bahkan yang menusuk, yang menohok, saya menjudge orang itu pintar. Hihi. Penilaian yang dangkal. Tapi belakangan saya mulai berpikir-pikir ulang. Ahh, ga selalu orang2 kek gitu pinter. Sama halnya kek nggak selalu orang yang lebih banyak diem itu karena enggak tau dan enggak punya pendapat. Semua cuman masalah apa mereka mau mengeluarkannya ato enggak. Dan di mata saya /*belakangan ini*/ enggak selalu berarti orang yang berani ngeluarin pendapatnya itu selangkah lebih maju. Saya mulai mempertimbangkan pepatah lama tentang betapa emasnya diam itu.
Semakin emas lagi untuk kasus yang saya temui belakangan ini. Waktu BBM naik, orang2 memaki, menghujat, dan menuntut supaya BBM diturunkan, untuk meringankan beban orang2. Yang beban pikirannya udah berat, udah banyak, udah susah, semakin ditambah lagi dengan naiknya harga BBM. Makanya ayolah, pemerintah turunkanlah harga BBM!!! Begitu banyak protes yang muncul pas harga BBM naik jadi 6000 bulan Oktober kemarin.
Hmmm. . . oke, saya sangat mengerti kesusahan mereka /*dan kesusahan saya juga, lowh*/. Saya tau betapa mahalnya barang2 sekarang ini. Tapi saya mulai enggak bisa mengerti, pas harga BBM turun bulan Desember ini. Jujur saya seneng. Yang dulunya bensin sepuluh ribu cuman bisa bertahan untuk dua-tiga hari, sekarang bisa empat-lima hari. Selisihnya enggak terlalu banyak memang, tapi bukannya enggak berarti sama sekali, kan?? Saya enggak ngerti, apakah saya yang terlalu lugu dan polos ato apa, tapi ternyata kesenangan yang saya rasakan nggak dirasakan oleh orang banyak. Iya, saya malah mendengar banyak komentar miring bernada sinis, “Alaaaa, cuma turun lima ratus. . .” /*waktu harga premium turun jadi 5500*/. “Duhh, ngefeknya apa c? Nggak kerasa!!!” Dan yang paling belakang, dan paling sakit adalah orang2 yang nuduh pemerintah sebenernya udah ngambil untung dari harga BBM yang sekarang.
Oh my God. . .
Saya enggak tau komentar itu pertama kali dikeluarkan oleh siapa, dari kalangan mana, ato sumbernya dari mana. Saya bukan orang yang pro-pemerintah, ato Pertamina, ato siapa saja. Saya enggak memihak siapa pun. Saya cuman ngerasa, wahai orang2, saya enggak tau Anda terlalu pintar, telalu kritis, ato justru orang yang enggak bisa bersyukur. Yaaa, mungkin turunnya enggak seberapa, dan mungkin memang harganya teteb enggak kembali seperti semula, tapi nggak bisakah Anda melihat sisi positifnya –sesedikit apapun– dari sini? Bahwa betapapun kecilnya, masih ada hal yang bisa disyukuri? Atau Anda udah terlalu dibutakan oleh kepengenan menyalahkan pemerintah, ato pihak lain manapun? Huhuhu. . . sangat disayangkan . . .
Terlalu lugu, terlalu nrimo emang enggak baik. Tapi terlalu banyak nuntut juga enggak bisa dibenarkan, kan?? Kenapa c kita enggak bisa nyoba ngambil sisi positif dari semua kejadian? Lebih sering bersyukur sama Tuhan, untuk smua hal yang masih boleh kita alami, sepahit apapun, sesakit apapun, sesusah apapun, sekecil apapun. Ayolahh, waktu kita terlalu berharga untuk dihabisin dengan bersedih-sedih, mencari kejelekan, mencari kesalahan, dan enggak berbahagia. Ayolah, sadarilah, bahagia itu proses, dan bukan tujuan. Kenapa enggak mulai berbahagia dari sekarang, dengan lebih banyak bersyukur??? Bisa, kan??? (^_^)v

3 Responses so far »

  1. 1

    leoganda said,

    Kliatanya engga deh pi, tau ronald kan? dia pendiem lho.. wkkwkwkw

  2. 2

    Arya Ardana Pasha said,

    Harga BBM naik, harga BBM turun…..
    Menurut saya pribadi, faktor utamanya adalah pada kebijakan pemerintah itu sendiri. Harga BBM dapat ditekan, namun dengan jalan subsidi. Nah, saya kurang setuju dengan cara semacam ini. Karena dengan subsidi tersebut, beban pemerintah menjadi lebih berat. Padahal dana tersebut sebenarnya dpt dialokasikan untuk pendidikan ato yg lainnya.
    Subsidi hanya mengakibatkan sebuah korporasi menjadi tdk efisien. Karena beban produksi yang sebenarnya, juga ditanggung pemerintah melalui subsidi. Biaya produksi menjadi semu. Akibatnya, ya inefisiensi. Yang parah lg adalah korupsi.

    Berapa besar biaya uang saku pejabat yang harus dialokasikan sebuah korporasi sebesar Pertamina? Di dalam account apa? Donasi? ComDev? Entertainment? Senangnya, karena biaya uang saku (baca:subsidi dan korupsi) bisa masuk sebagai komponen biaya – untuk penentuan harga. Jika subsidi dihapus, apalagi korupsi kan? Korupsi ini menambah beban biaya soalnya.

    Konsekuensi dengan dicabutnya subsidi, harga BBM menjadi naik.

    Nah solusinya ya dengan EFISIENSI. Apakah perlu menyalakan mesin mobil plus AC, audio dan perangkat elektronik lainnya saat kita di parkiran menunggu seseorang untuk belanja misalnya. Untuk berjalan sekitar 600 meter, perlukah AC mobil dinyalakan? etc.

    Untuk penurunan harga BBM. Yang perlu disikapi adalah, antisipasi pemerintah dengan rencana penurunan tersebut. Jangan sampai dalam aplikasinya malah terjadi kelangkaan, yang efeknya lagi2 masyarakat yang menjadi korban.

  3. 3

    Arya Ardana Pasha said,

    Sekali lagi, Adakah kepedulian pemerintah pada masyarakatnya begitu sangat tega mengombang-ambingkan harga, yang hanya dinikmati para spekulan besar. Berpatok tak jelas Dollar atau BBM kenyataan di lapangan harga terus melambung.
    Fungsi kontrol/kinerja SBY dan pembantunya semakin tidak jelas naganya merambah keterpurukan saja.
    Menaikan harga BBM ala SBY :
    US$. 70.00/barel dari Rp. 2.500 menjadi Rp. 4.500
    US$ 125.00/barel dari Rp. 4.500 menjadi Rp. 6.000
    US$. 45.00/barel dari Rp. 6.000 menjadi Rp. 4.500
    Mana turunnya Bpk SBY……………
    Hak angket panggung sandiwara, menaikan harga dengan semena-mena tak ada pertanggung-jawabannya. Penderitaan masyarakat semakin nyata mana keadilannya


Comment RSS · TrackBack URI

Say your words