Enaknya bisa bercerita. . .
Enaknya bisa menumpahkan smw isi hati. . .
Enaknya bisa mengeluarkan smw unek-unek. . .
Selama ini dia menyimpan smwnya sendirian. Setiap ketakutan, kekhawatiran, dan kecemasan ditelannya dalam diam. Masuk ke dalam tenggorokan, kek sebongkah roti gandum besar yang belum sempat dipotong-potong.
Seret. Berat. Menyesakkan.
Kadang dia coba meneguk bergelas-gelas air untuk bisa menghilangkan rasa nggak nyaman itu di tenggorokannya. Cuman ternyata roti gandum besar itu masi mengendap dan diam di dalam perutnya. Menyisakan rasa kembung yang nggak enak.
Diam, penuh, dan menyesakkan.
Ahhh. . . nggak nyaman banged rasanya.
Sampai akhirnya ditemukannyalah sang penyelamat. Dia yang menepuk punggungnya keras. Sampai roti gandum yang menyesakkan itu berhasil keluar dari perutnya.
HOEK.
HOEeeeK . .
HoEEEEEEK. . .
Satu demi satu, segumpal demi segumpal, dan sebongkah demi sebongkah roti gandum itu meluncur keluar.
Plong rasanya.
Makasih, yak.
