Tentang Kamu

Tiba-tiba saya teringat kamu. Iya, kamu. Pada senyum lebarmu, rambut ikalmu, dan sweater hitam menjurus belel yang selalu kamu pakai. Semua yang melekat padamu. Semua yang serba kamu.

Ahh, saya jadi terngiang-ngiang kembali semua percakapan kita, beberapa lelucon garingmu yang tetap saja membuat saya tersenyum, dan nasehat-nasehat sok bijakmu yang anehnya berhasil menenangkan saya.

Lama juga, ya, kita tidak bertemu? Terakhir sudah berbulan-bulan lalu. Saat itu saya masih duduk manis di boncengan motormu, menaruh tangan saya di dalam kantong sweatermu. Menikmati angin malam di Jakarta pukul dua pagi. Berbincang pelan seakan takut orang lain akan mendengar.

Di mana kamu sekarang?

Apa kabarmu?

Kita cuma sesekali bertukar kata di jejaring sosial, bertegur sapa di messenger, tanpa pernah beradu pandang, bertatap muka, dan berpadu suara. Kangen juga, ya, rasanya? (:

Saya memainkan telepon genggam saya, membuka buku telepon elektroniknya, dan berhenti di contactmu. Meniti deretan angka-angka yang sudah saya hapal. Menutupnya kembali, dan memasukkan telepon genggam saya di tas.

Malu. Atau mungkin lebih tepat dibilang gengsi? Yang pasti saya enggan memulai duluan. :”>

Teman di ujung meja mulai mengajak saya bicara. Ah, saya lupa sedang berkumpul dengan teman-teman. Terlalu asyik dengan pikiran saya. Tentang kamu.

Kami sudah terlibat pembicaraan yang cukup seru ketika tas mungil saya mulai bergetar. Saya buka tanpa tergesa. Dan kaget setengah mati menjumpai namamu di layar telepon genggam saya.

Rasa panik mulai menyergap. Apakah tadi saya tidak sengaja kepencet menghubungimu atau apa.

“Halo?” kata saya agak ragu.

“Hey, kacang di Bali yang kamu suka banged itu namanya apa, Na?” suaramu agak berteriak di ujung sana, beradu dengan angin yang sepertinya cukup kuat.

“Err… kacang disko?” balas saya, dengan berjuta pikiran dan pertanyaan di kepala saya.

“Ah, iya, bener. Aku lagi di Bali, nih, mau nitip, nggak?” tanyanya ringan.

“Nitip ini berarti dibayarin, kan, ya?” tanya saya jahil dengan senyum lebar yang tak bisa saya tahan

“Yeee… nggak, donk, aku beliin nanti kamu ganti.” balasmu langsung, cepat, dan tegas. Sesuai perkiraan. Pelit, seperti biasa.

“Hahaha, kiraiiiin… Yawda, deh, mau. Dua kantong, ya, bwt Dudung satu.” jawab saya.

“Aaah, pacar kamu suka juga? Ato jangan2 yang suka dia, ya? Hehe. Okei, aku beliin. Udah dulu, ya. Sampai ketemu taun depan!” katanya ceria.

“Hmmm… okay.” jawab saya agak malas. Enggan mengakhiri pembicaraan yang singkat ini denganmu, dan menyudahi kesempatan mendengar suaramu.

Tapi saya menyadari bahwa setelah telepon ditutup pun, senyum saya masih mengembang.

Tuhan itu lucu, ya?

Baru saja saya memikirkanmu, tiba-tiba kamu hadir. Tanpa diduga. Hihi. Iya, Tuhan itu kadang-kadang lucu. Penuh kejutan, dan nggak pernah terlambat.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.