Saya pengin cerita. . .

Anak kecil yang baru pulang sekolah itu menarik-narik pelan baju ayahnya yang sedang sibuk membaca koran. Ntah ayahnya tak merasa, ato tak mengerti maksudnya.

“Yah, Yah. . . ” panggilnya dengan suara kecilnya.  Ayahnya menggeram pelan, sambil sama sekali tidak memindahkan fokus pandangan dan pikirannya dari surat kabarnya.

“Ayah, Ayah. . . adek pengin cerita. . . ” kata si anak kecil akhirnya. Ayahnya menurunkan korannya, dan melihat ke anaknya. Anak kecil, yang merasa mendapat angin, mulai berceloteh dengan riang. Menceritakan semua peristiwa yang dia alami hari itu, semua perasaan, ketakutan, dan kegembiraannya. Saking antusiasnya, dia sampe nggak sadar koran ayahnya sudah naik ke atas hidungnya lagi, menyita seluruh perhatian ayahnya dari cerita2nya.

Poor kid.

Malemnya, saat si kecil sudah terkantuk-kantuk di sofa ruang tamu keluarga, ayah mendatanginya, duduk di sebelahnya, dan menanyai si anak dengan semangad,

“Hari ini ada apa aja di sekolah, Dek??”

Dan si anak yang sudah mengantuk pun hanya menjawab seadanya.
“Kok cuman gitu? Nggak ada ulangan, ya? Ada temen baru kah di sekolah?”

“Ah, Ayah, adik udah ngantuk. Adik bobok dulu, yaaa. . .” jawab si anak sambil berjalan menuju kamarnya, meninggalkan ayah yang termangu2 sendiri di ruang tamu.

Poor dad.
So hard to find the right time to tell our story, ya? Haha. Or it’s that hard to take time to listen?
Cuz sometimes, we want to  share it at the right time,

but when time is exactly right???

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s