Dompet Titipan…

Mbok aku dibeliin oleh2 juga,” begitu kata Budhe saat saya balik dari negara tetangga beberapa bulan yang lalu.

oleh-oleh yang sempat diminta Budhe

“Lhoh, itu cokelat-cokelat kan buat Budhe,” jawab saya.

Budhe protes, “cokelat bisa abis. Yang bisa kupamerin barang dari luar, donk…” lanjutnya.

Saya berpikir keras. Budhe nggak begitu suka dandan, jarang pergi2 juga, padahal oleh2 andalan saya dari sana adalah scarf. Berhelai-helai dengan corak dan warna yang macem2 selalu saya bawa tiap kali balik dari sana. Tapi sepertinya kurang begitu cocok untuk Budhe. Sendal? Dompet?

“Dompet aja, iya, dompet…” pilih Budhe akhirnya.

“Ok, deal, ya, Budhe, besok aku beliin.”

Sebulan kemudian, sepulangnya lagi saya dari tempat yang sama, kami bertemu lagi, tapi pesanan Budhe belum saya belikan. Budhe sempat menagih, sih, dan dengan sangat merasa bersalah saya bilang ketinggalan di Jakarta. Sebenernya saya bingung banged harus beli yang kek gimana. Di negara tetangga ini hampir semua2nya mirip dengan yang ada di Indonesia, apalagi dompet. Nggak ada bedanya dengan kalo saya beli di mall di Jakarta. Sempat terpikir untuk membelikannya di Jakarta, dan kemudian saya aku2 dari luar, tapi… ahhh, mana tega saya begitu. Apalagi Budhe begitu polos. Hmmm….

Tapi untunglah Tuhan masi kasi saya kesempatan sekali lagi untuk ke sana, yang nggak saya sia-siakan. Titipan budhe langsung saya taruh di daftar utama yang harus saya beli. Saya memang enggak beli yang paling mahal, tapi saya pilih yang paling bagus dari yang ada.  Coraknya pun mirip corak baju yang biasa dipakai dan dipilih Budhe: corak macan. Saya beberapa kali meledek Budhe tentang ini. Hihi.

Pas Lebaran, saya bawa dompet itu ke Jokja. Berharap ketemu Budhe, seperti Lebaran2 yang biasanya. Tapi ternyata Lebaran kali ini nggak sama. Rumah Simbah sepi, karena keluarga saya, dan keluarga tante saya enggak pulang karena beberapa pertimbangan. Hanya Budhe dan keluarganya yang di sana. Huhu. Sedih juga Lebaran nggak ketemu Simbah dan termasuk Budhe juga. Jadilah dompet itu saya titipin ke orang rumah, untuk dikasihin ke Budhe kalo dia pas dateng ke rumah.

Tapi sayangnya, sampe  malem itu, 16 November, saat saya menghadiri 40 hari meninggalnya Budhe, dompet itu masi terbungkus rapi di rumah saya, belum sempat diberikan. Budhe keburu pergi sebelum saya sempat bertemu dan menyerahkan langsung oleh2 saya yang dimintanya sejak lama. Huweee. Malem itu juga, langsung saya kasihkan ke sahabat Budhe yang datang, yang langsung menyambutnya dengan gembira. Dengan bercanda dia mengatakan menjadi perwakilan Budhe untuk menerima dompet itu. Saya cuman tersenyum saja. Toh itu  sudah menjadi hak Budhe dan keluarganya. Sahabat Budhe begitu gembira dan memuji-muji dompetnya, tapi melihatnya justru membuat saya semakin pedih. Saya membayangkan Budhe sendiri yang menerima dompet itu. Pasti budhe akan langsung menandak-nandak, menari-nari dengan gayanya yang khas, yang akan selalu saya rindukan. Huks huks huks. Andai pada waktu Lebaran kami bertemu. Andai saya membelikan dompetnya lebih cepat. Andai saya nggak ragu-ragu memilih dompet untuk dibeli. Well, penyesalan memang selalu datang terlambat.

I miss you, Budhe…

Advertisements

4 thoughts on “Dompet Titipan…

  1. Bude pasti ikut senang dan menari-nari di Surga sana Enjz.
    Bukan terlambat tapi tertunda, beliau sudah menerimanya disana, dari kamu, sesuatu yang lebih berharga dari pada sebuah dompet, doa yang setiap hari kamu lakukan di pagi dan malam hari.. :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s