L.O.S.T

Tahunan sudah berlalu. Sudah banyak yang berubah. Banyak. Tapi pagi ini, dan beberapa hari belakangan ini, dia masih mendapati dirinya tergugu sendiri. Bingung. Gemetar. Dan melakukan hal yang sudah sangat sering dia lakukan; complain pada Tuhannya.

 

Saya yakin Tuhan pun bingung apa yang harus diperbuat dengannya. Kalau Tuhan bisa bingung, sih. Tapi kalau Tuhan enggak bisa bingung pun, saya masih tetap yakin Dia akan bingung menghadapi gadis kecil ini. *yoweslah, Pi, karepmu piye…

 

“God, I want A. I really need that. I’d do anything to get that A. When I finally get that A, there’s nothing that could stop me from giving my best effort to keep the A coming.”

 

Masih teringat jelas doanya kala itu. Terngiang. Bergaung di ruangan kecilnya yang berantakan. Tempat dia sering terjaga at some random times dan menangis sendirian. Waktu itu.

 

Sekarang? Setelah dia berhasil mendapatkan A?

“God, I don’t think I deserve this. I’ve sacrifice everything, but I guess I just can’t. I’m suffering, not enjoying that much. I miss my old time. Now I realize, all I need is B. I already knew that actually my heart was always said B. But I thought, if I have A, I could forget about B for a while. And I guess I’m wrong.”

 

*sigh* *sigh* *sigh*

 

Bayangan Tuhan yang menggeleng-gelengkan kepala dan mengelus dagu-Nya sangat jelas di mata saya. Seperti seorang ayah yang nggak habis pikir dengan anak enam tahunnya yang meraung-raung di ruang tamu, meminta sang ayah memasangkan kembali dua roda di bekas sepeda roda empat miliknya, yang baru minggu kemarin berubah status menjadi sepeda roda dua, yang atas requestnya sendiri supaya sang ayah melepaskan roda tambahannya.

 

Ahh, Tuhan, saya tahu, dia bukan lagi gadis kecil berumur enam tahun-Mu, tapi dia pun bisa juga kehilangan arah, belum mengenal dirinya sepenuhnya. Tapi…

Tolong maklumi semua keplin-planannya, ya?

Tolong pahami kebingungannya, ya?

Tolong kuatkan dia dalam segala ketakutannya, ya?

Tolong yakinkan dia dalam segala kebimbangannya, ya?

 

Would You?

Would You, God?

 

Karena pada saat-saat seperti ini, dia cuman butuh diyakinkan; tentang-Mu dan tentang dirinya sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s