elegi kepercayaan

i knew this time would come. i knew it. sejak pertama Mey meminta saya memperkenalkannya pada dia. Dia. Yep, dia yang selama ini menjadi subjek utama cerita saya pada Mey dan Rani. Dia yang selama ini selalu saya kagumi, dan kepadanya saya pendam perasaan saya. Cuma Mey dan Rani yang tau. Well, mungkin dia pun sudah cukup curiga.

Karena permintaan Mey dan Rani jugalah, saya membawa mereka ke sebuah pertemuan ringan dengannya di sore hari. Sebuah perkumpulan kecil yang cukup rutin bertemu setiap minggunya.

Pikir saya, Mey dan Rani hanya akan menjadi sekedar bintang tamu, yang datang pada hari itu juga, dan sudah.

Perut saya mulai bergejolak ketika melihatnya begitu mudah dekat pada Mey dan Rani. Yea, saya tau, dia memang gampang dekat dengan perempuan, pun Mey dan Rani yang tidak sulit berbaur dengan lelaki.

Hingga akhirnya dari Ranilah saya tau, tidak berapa lama setelah pertemuan itu, mereka, baik Mey dan Rani, mulai berhubungan dengannya, via sms. Gejolak yang saya rasa semakin kuat, semakin tidak nyaman.

Sejak itu, keadaan mulai berubah, jika biasanya saya menceritakan sms apa yang saya terima darinya, atau hal-hal kecil lainnya tentangnya, sekarang tak perlu lagi. Merekapun menerima perlakuan yang sama seperti saya.

Saya mulai menyadari, bahwa saya sebenernya sama sekali tidak special baginya. Saya cuma satu dari sekian banyak perempuan yang mendapat perlakuan yang sama rata dengan yang lainnya, tapi mungkin menjadi satu yang menari kegirangan tanpa tau bukan hanya saya yang mendapatkannya.

Well, saat-saat itu menjadi saat paling menyakitkan bagi saya. Saat di mana mata saya dibukakan dengan paksa, hingga sepertinya melukai kelopak mata, merontokkan helaian bulu mata saya sampai habis, menjatuhkannya bersama dengan butiran air mata.

Sakit saya bukan cuma karena kenyataan tentang dia yang baru saya ketahui, tetapi juga tentang Mey, yang bagi saya bermuka dua. Di depan saya, tak pernah sedikitpun dia bercerita tentangnya dan semua perlakuan yang diterima Mey darinya, tapi belakangan saya ketahui, Mey tak menolak setiap perhatian kecil yang datang darinya. Mey menikmati kenyataan bahwa dia, yang selama ini saya jatuhi hati, jatuh hati padanya. Puncaknya adalah ketika saya mengetahui Mey mengajaknya pergi bersama, berdua saja, meskipun akhirnya ditolak.

Saat itulah saya merasa cukup. Selama ini saya sudah sangat bodoh dengan terus menganggap diri saya istimewa baginya, tapi saya tak sebodoh itu. Saya pun sakit hati dengannya, dan sekaligus sakit yang lebih dalam terhadap Mey. I had overcome several broken hearts in my life, but being betrayed by best friend is another story. Tapi sudahlah. Sifat introvert saya membuat saya hanya terdiam, menahan diri, dan mundur pelan-pelan.

Saya mulai menghindari pertemuan rutin setiap minggunya, saya mulai mengacuhkan semua perhatian, perlakuan, maupun sms yang masih rajin diberikannya, saya menutup telinga terhadap beberapa cerita yang masih dibagi antara Rani dan Mey. Saya memutuskan untuk benar-benar melepaskannya.

Memendam rasa sakit sambil melepaskan harapan dalam diam.

Dari kejadian ini saya belajar, nggak ada seorangpun yang bisa saya percaya. Ha. Pait! Tapi nyata senyata-nyatanya.

Sorry, Mey, bagaimanapun ending dari cerita ini, but you’re no longer have my respect nor trust. For good.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s