What If God was One of Us?

I need to let this out. Daripada dipendem. Bisa jadi gila tar. Not a good one, but I really need to get it out, somewhere. And here they are.

Jadi gini, malem itu, saya dan salah satu temen sekantor, seperti biasa, pulang malem. Sekitar jam delapan saat saya menyusuri trotoar sambil ngobrol ringan, berdua. Tiba-tiba obrolan kami dihentikan oleh seorang bapak yang lumayan tua berkacamata setebal pantat botol, bertopi, dan berbaju agak lusuh. Bapak ini menanyakan arah jalan ke suatu daerah.

Berhubung saya lebih baru di kantor dan kebetulan saya bergolongan darah B yang, konon katanya, disorientasi arah, jadi saya diem aja dan membiarkan temen sekantor saya yang menjawabkan arah untuk si bapak tua. Daerah yang ditanyakan si Bapak cukup jauh dari tempat pertemuan kami malem itu.

Setelah teman saya selesai memberikan arah yang dimaksud, si Bapak mengucapkan terima kasih, sambil kemudian menambahkan cerita bahwa dia baru saja dicopet dan kehilangan dompet sehingga beliau nggak bisa pulang dan sedang mencari jalan ke rumah sodaranya di daerah yang dia tanyakan.

Saat si Bapak ini menceritakan hal itu, saya jadi keingetan, beberapa bulan yang lalu, saya juga mengalami hal yang sama. Suatu sore, pas lagi jalan di jembatan busway UNJ, hendak naik bis trans, saya disebelahi oleh cowo yang mungkin usianya nggak begitu jauh dari saya. Berjaket hitam, berambut semi gondrong, dengan wajah keringetan menjurus pucat. Dia bercerita bahwa dia ketiduran di bis trans dan tasnya hilang dicopet, sementara rumahnya di (saya lupa, antara Bekasi/Bogor/manaaa gitu) dan sekarang dia enggak punya ongkos untuk pulang.

Well, I’m not a mind reader, dan saya nggak jago mendeteksi kebohongan. Saya cuman melihat betapa pucatnya dia, membayangkan mungkin dia belom makan sejak siang dan kebingungan. Saya tanyakan ongkos yang dia perlukan untuk pulang yang katanya perlu naik bis trans sekali disambung naik kereta.

Akhirnya sore menjelang malam itu saya membelikan dia tiket bis trans dan memberikan ongkos yang dia butuhkan. Di dalam halte, saya menunggu  bis trans ke arah dukuh atas, dan dia mau naik yang ke Pulogadung. Selagi menunggu bis, saya masih sesekali memperhatikan cowo itu. Satu, dua bis ke Pulogadung lewat, tapi dia masih tetap berdiri di pintu halte. Saya perhatikan mimik mukanya; pucat, lesu, dan panik yang tadi saya lihat (atau mungkin hanya saya bayangkan saya lihat) nggak lagi di sana.

Ehm, ini hanya logika saya aja, sih, tapi kalo saya ada di posisi dia, habis kecopetan dan kehilangan tas sejak siang, dan itu sudah menjelang maghrib, begitu ada jalan pulang, yang akan saya lakukan adalah pulang secepatnya. Tapi melihat dia yang begitu santai membiarkan bis demi bis berlalu, saya jadi mulai ragu. Rasanya ada yang salah.

Saya bukannya enggak ikhlas atau apa, tapi rasanya kesel juga, ya, ternyata? Yang saya keselkan bukan uangnya. Rezeki nggak akan ke mana, bukan? Saya hanya menyesal sempat begitu khawatir. Iya, sih, dugaan saya juga belum tentu benar, kalo dia bohong. Tapi rasanya rugi juga sudah sebegitu gampangnya jatuh iba Cuma karena bayangan-bayangan yang saya buat sendiri. Lalu saya sadar. Saya di Jakarta, tempat keras yang akan memaksa orang melakukan apapun untuk dapat duit. Hmmm. Okey, pelajaran baru untuk saya. Jangan terlalu mudah kasihan dan harus lebih waspada.

Kembali ke si Bapak. Entahlah, tapi mungkin saya terbawa ingatan saya tentang mas-mas di jembatan busway, sehingga cerita si Bapak tidak menggoyahkan saya. Ah, cerita lama, Pak. Begitu pikir saya awalnya. Tetapi anehnya, setelah cerita singkat yang sebenarnya nggak lebih dari dua kalimat itu, si Bapak berlalu pergi, sambil mengucapkan terima kasih atas arah yang sudah diberikan.

Dan entah kenapa, melihat si Bapak berjalan menjauh justru membuat saya semakin perih. That’s not the way what people do if they lie to get money from us! Begonya, saya malah Cuma berpandang-pandangan sama temen sekantor saya, melanjutkan perjalan sambil saling bertanya-tanya, “apakah Bapak tadi benar-benar membutuhkan bantuan?”

Saya dan teman saya berpisah jalan. Saya masih menunggu bis menuju Pulogadung, dan teman saya lanjut berjalan. Sepanjang waktu menunggu, saya terus memikirkan Bapak tadi. Saya jadi keingetan Mbahakung, topi yang tadi Bapak itu pakai mirip seperti yang dipakai Mbahakung. Saya jadi kepikiran, bagaimana jika suatu saat, Mbahakung yang sedang dalam kondisi Bapak itu, kecopetan, nggak tau arah, dan nggak punya uang sama sekali, sementara jarak yang ditempuh masih jauh. Parahnya lagi, ketika bertemu dengan orang-orang muda yang sebenarnya mampu dan bisa untuk menolong, mereka nggak melakukan apa-apa. Dang!

saya jadi keingetan lagu ini, “what if God was one of us”

Saya pengin nangis saat itu juga. Saya berusaha menyalahkan Jakarta dan kisah dengan mas-mas di shelter UNJ, yang menurut saya membikin saya menutup diri ketika ada orang lain yang butuh, ketika kemudian saya sadar. Yang salah sebenernya saya sendiri, kenapa saya menutup diri untuk membantu orang lain? Kenapa saya nggak bisa lebih peka melihat orang lain kesusahan? Kenapa saya begitu takut untuk bertindak? Kenapa saya enggak bisa lebih inisiatif? Kenapa saya harus merelakan kemungkinan bahwa saya akan bisa membantu orang lain hanya karena begitu takut ditipu sementara saya mungkin hanya akan kehilangan tak seberapa? AAAARGH!

Well, malam itu jadi salah satu penyesalan terbesar dalam hidup saya, ketika saat itu saya hanya bisa berdoa, semoga Bapak itu dilindungi Tuhan, semoga dia dipertemukan dengan orang-orang baik yang lebih mau berinisiatif, semoga dia dapat selamat sampai di rumah saudaranya sebelum larut.

Saya juga berdoa, semoga lain kali, saya nggak akan melewatkan kesempatan untuk bisa membantu orang lain, semoga ketika Tuhan hadir dalam bentuk siapapun yang membutuhkan, saya akan bisa melakukan sesuatu yang lebih dari sekedar doa, dan semoga saya akan bisa lebih peka dengan orang-orang lain.

Love and affection are not supposed to be lost [only] by harshness, nor hard city is not supposed to makes us heartless. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s