Penempatan Tuhan vs Pilihan Saya

Berawal dari selembar tiket kereta malam itu, yang membawa saya, harus dan mau nggak mau, kembali ke Jakarta. Saya kembali dalam keadaan badan masih nggak begitu enak, masih pusing-pusing, suara bindeng berat, masih pengin dimanjain mamah, dan dihiasi oleh batuk-batuk kecil tanpa dahak. Oh, dan jangan lupa beban pikiran bahwa Senin paginya, sesampai di Jakarta saya harus langsung ngantor, dan malemnya serta Selasa malemnya saya harus menunaikan kewajiban bulanan saya; begadang sambil closing. Urgh.

 

Bener-bener perjalanan yang tanpa beban, bukan begitu ? 😀

 

Masih belum puas juga, saya menambah beban pikiran saya malem itu dengan memendam iri sepenuh hati pada teman-teman saya yang dikasi kesempatan Tuhan untuk stay di Jokja, dapet duit dari sana, deket dengan orang tua, dan bahkan sudah berkeluarga di sana.

 

Arrrgh.

Keengganan untuk balik Jakarta dan kembali bekerja di sana semakin memuncak malam itu. Saya menganggap Tuhan enggak adil. Kenapa Tuhan memilih-milih orang, menempatkannya dalam hidup yang (dalam pandangan saya malam itu) lebih mudah, dan seakan melepas orang-orang yang lain lagi di kota orang yang serba penuh orang asing dan ancaman, dengan gaya hidup yang jauh lebih berbeda, lebih cepat dan lebih keras, sendirian?

 

Apa pertimbangan-Mu, God?

 

Dan apa yang membuat-Mu masih yakin dan percaya, menempatkan saya di sini? Bukan di sana, dekat dengan orang tua dan adek-adek, serta kehidupan Jokja yang (relatif, yaa) lebih nyaman?

 

Gee…

 

Dua hari pertama setelah liburan di Jakarta ini menjadi hari-hari terberat saya. Ternyata sekeras-kerasnya kehidupan, masih jauh lebih sulit melawan keengganan kita sendiri. Segala sesuatu yang terpaksa dikerjakan nggak akan pernah mudah, Dear…

 

Well, that was my first thought.

 

Pikiran berikutnya tersadar oleh kalimat ini:

 

Kamu adalah hasil dari pilihan-pilihanmu sebelumnya.

 

#jleb!

 

Dan saya di sini, sedang menyalahkan Tuhan untuk apa yang sedang saya hadapi. Tepatnya, untuk apa yang sudah saya pilih, dan sedang saya hadapi sekarang.

 

Dari awal, sejak lulus kuliah, siapa yang bertekad keluar dari Jokja dan cari kerja di luar Jokja?

Siapa yang memilih cari pengalaman sebanyak-banyaknya dengan enggak tetap stay di Jokja?

Siapa yang memutuskan untuk mengambil setiap kesempatan yang ada?

Siapa yang enggak mau terus-menerus menghabiskan hidupnya di satu kota yang sama sejak kecil?

 

Saya, saya, saya, dan pilihan yang saya buat.

Haha.

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Penempatan Tuhan vs Pilihan Saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s