I Judge People by……….

Saya menjudge people dari apa yang saya lihat ketika mereka duduk di bangku mobil yang bisa dilipat dan kebetulan ada orang di belakangnya.

Panjang, eh? Dan terlalu mengada-ada?

But it works for me.

Beberapa kali kebagian duduk di bangku baris paling belakang, yang kalo mau keluar (supaya lebih enaknya, kondisi defaultnya adalah) dibantu sama orang yang di depannya untuk ngelipetin kursi. Saat seperti itulah saya selalu memperhatikan orang-orang yang kebetulan duduk di depan saya.

Entah kebetulan, entah Tuhan memang sengaja menempatkan ybs di situ untuk memperlihatkan pada saya gimana sebenernya beliau.

Orang-orang yang “nggak bermasalah” pada umumnya, setelah turun, mereka ada yang menjagain pintu tetap terbuka atau ngebantu ngelipet kursi. Yea, karena yang buat ngelipet biasanya ada di bagian depan bawah bangku, akan lebih mudah kalo yang ngelipet adalah yang posisinya di depan bangku, bukan di belakang.

Untuk beberapa kasus yang rada banyak meskipun cenderung bikin kesel, adalah orang yang begitu turun langsung melenggang kangkung pergi gitu aja. Tapi pernah tuh saya ngalamin, ada sebut saja XYZ Duduk di bangku depan saya. Kebetulan dia di bangku paling jauh dari pintu, jadi dia yang paling terakhir keluar dari barisannya. Waktu itu dia masih sibuk ngurusin bawaannya, jadi yang lain udah pada turun, dan akhirnya pintu udah ketutup. Dari dalem dia protes, gedor-gedor pintu, “aduuh, ini gimana, sih, kok ditinggalin. Pak, tolong, donk, bantuin bukain…” omelnya ribut.

Yang bikin saya takjub, setelah akhirnya ada yang ngebukain pintu, udah ada dia langsung pergi sama yang ngebukain pintu, meninggalkan kami, beberapa orang yang ada di baris paling belakang, masih terkurung bangku yang belom dilipet dan pintu tertutup.

Oh. My. God.

Saya hampir nggak percaya bakal ada orang kayak gitu. Jelas-jelas barusan dia ngalamin kesusahan yang sama, dilengkapi omelan dia sebelumnya, nggak ada sepuluh menit, dan setelah itu dia nggak ada rasa empati sedikitpun sama orang yang mengalami hal yang sama? Again, Oh. My. God.

Memang akhirnya terbukti, si XYZ ini dan orang-orang lain yang dengan enaknya mengabaikan (meskipun cuman dalam kasus sesimple ini, tapi bukankan semua penilaian dinilai dari hal yang bahkan paling sederhana?) memang… ya gitu, dehh… you know, laah…

Kalau ada yang mikir, “lhah, siapa elu, boleh mengejudge orang?” Lhah… saya mengejudge bukan dengan tujuan untuk ngomporin orang lain, “eh, si ini orangnya gitu, lowh, besok lagi nggak usah ditolongin dia.” No, sama sekali enggak. Sebagai pribadi, saya sendiri merasa berhak melindungi diri saya, dari segala macam hal, ya, dan sakit hati termasuk di dalamnya. Jadi, kalau saya menulis saya mengejudge orang, ya memang untuk catatan saya dalam hati saya. Oh, orang ini gini, orang ini gitu.  Dengan begitu, saya nggak akan berharap lebih ke orang-orang yang memang macem begini. Saya akan menaruh harapannya saya pada orang-orang yang memang terbukti bisa menjaga harapan saya pada mereka dengan baik.

Itu aja, sih.

 

 

~Hmm, tulisan yang dibikin dengan agak sedikit emosi, tapi… yasudahlah, yaa.. blog-blog saya ini… *grin*~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s