Secercah Udara Segar di Tengah Jakarta; Museum di Tengah Kebun

Pada ke mana libur hari kejepit kemarin?

Nonton? Aduh, udah tiap minggu…

Ke mall? Yaelah, itu mah udah sejumlah kedipan mata…

*ngejawab sambil kipas-kipas pake buku tabungan sambil nyilangin kaki* *pose minta digampar-lah, pokoknya* *kenapa harus pake buku tabungan? Apakah isinya banyak? Sama sekali enggak, cuman biar keliatan tengil aja*

Hehe. Hari Kemis kemarin, saya dan teman-teman kuliah mengunjungi suatu tempat yang sebetulnya bukan tipe tempat kami main yang biasa. Iya, bukan tempat karaokean, bukan tempat main bowling, atau tempat nonton pilem. Kami main ke museum. Appah?? Emang lagi studi tour, main ke museum segala?

papan nama di depan pintu gerbang

papan nama di depan pintu gerbang

Kami main ke Museum di Tengah Kebun. Asal mulanya juga sebetulnya nggak begitu jelas. Cuman hari Selasa malam saya chatting sama @ratnakwik, dan dia cerita abis dari sana, sambil ngasi link blognya dia di sini, yang menceritakan dengan lebih jelas dan lebih oke apa itu Museum Tengah Kebun, bagaimana [calon] pengunjung harus reservasi dulu kalo mau main dengan jumlah minimal orang tujuh orang. Bagaimana museum hanya buka pada hari Rabu, Kamis, Sabtu, dan Minggu, dengan membuka dua sesi kunjungan (9:45 dan 12:30).

Entah kenapa, dengan beberapa hal yang nyentrik itu, menggerakkan saya untuk Rabu paginya menelpon ke 021-7196907, tanya-tanya, terus ngebujuk beberapa teman, dan nelpon ulang untuk bikin reservasi besok Kemis paginya. Wak wak waak…

Jadilah, Kamis pagi sampai siang itu, kami serasa diajak meninggalkan Jakarta. Rumah besar yang diisi dengan dua ribuan koleksi dari 63 negara itu membius kami hampir berjam-jam lamanya. Ditemani Pak Mirza, keponakan dari Pak Djalil yang dengan setia menemani dan membanjiri kami dengan cerita-ceritanya. Pelajaran sejarah, geografi, agama, kewarganegaraan lengkap kami dapat siang itu.

Sekitar pukul 12 siang, setelah selesai mengunjungi seluruh tujuh belas ruangan, yang masing-masing diberi nama yang berbeda-beda oleh pemiliknya, kami beristirahat di halaman belakang rumah. Jadi dari 4200 m2 luas seluruh tanahnya, 3500 m2 dijadikan taman asri, lengkap dengan kolam renang berwarna biru jernih yang rasanya memanggil-manggil kami untuk nyemplung, well.. okeey… saya aja mungkin 😀

Menghabiskan waktu di taman itu sama sekali nggak terasa saat itu sudah tengah hari. Rasanya kayak lagi liburan di Bali! Lhah? XD Hanya perut yang keroncongan yang mengingatkan kami. Kalo nggak kelaperan, mungkin bisa sampe sore kali, ya, gogoleran di sana. Ahahahah.

berpose di taman belakang museum, kayak di Bali, kan? #keukeuh

berpose di taman belakang museum, kayak di Bali, kan? #keukeuh

Kami sempat juga bertemu dengan Pak Djalil, the owner, yang kebetulan sedang beristirahat di ruang tidurnya. Jadi memang rumah ini, meskipun dijadikan museum, masih digunakan sebagai tempat tinggal sehari-hari. Bahkan katanya, kegiatan sehari-sehari, seperti misalnya memasak dan makan masih dilakukan di ruangan besar dengan meja dan kursi-kursi kayu antik dari Denmark, dikelilingi oleh berbagai benda koleksi Pak Djalil ini. Sayangnya, karena Pak Djalil sedang sakit, kami jadi nggak punya kesempatan untuk berlama-lama ngobrol dengan beliau. Pak Mirza sempat menyebut bahwa dulunya Pak Djalil bekerja di dunia advertising, ketika saya googling sebentar mengenai beliau, ternyata beliau inilah yang menciptakan tagline “Honda, Selalu Lebih Unggul”. Hihi. (Intermezzo dikit, ahh. Dilarang protes)

salah satu koleksi lucu yang saya suka banged! :D

salah satu koleksi lucu yang saya suka banged! 😀

Oh ya, sedikit tips kalo mau ke sini, harus on time! Pak Djalil terkenal sangat perfeksionis, termasuk dalam hal waktu, dan ini menurun juga ke keponakannya. Saya dan rombongan kemarin sempat terlambat sekitar lima belas menit dari waktu yang saya janjikan, yang ternyata sudah ditunggu sejak setengah jam sebelumnya, dan nggak dipungkiri menjadi lima belas menit yang cukup membuat saya merasa bersalah sepanjang perjalanan menuju ke sana. Nggak perlu juga berangkat lebih awal, karena sama aja, sih, nggak akan dibukakan juga kalo belom waktunya buka. *grin*

Overall, tempat yang unik dan worth it banged untuk dikunjungi. Nggak akan rugi, deh! Apalagi, belum lama ini, bulan Mei kemarin, museum Tengah Kebung baru saja merebut piala bergilir sebagai Museum Terbaik dari 62 museum yang ada di Jakarta. Posisinya juga pas banged, di Kemang, tepatnya di Jl. Kemang Timur Raya no 66, di sini, jadi begitu selesai main ke museum, bisa langsung balik lagi jadi anak nongkrong, deh. *halah*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s