Sawarna, The Real Hidden Paradise

sawarna dari puncak bukit

Mereka menyebutnya Sawarna, The Hidden Paradise. Well, kalo kata saya, sih, The Real Hidden Paradise. Paradise-nya beneran, tapi hidden-nya juga beneran! 😀

Jadi ini cerita pas weekend kemarin saya dan beberapa sahabat main ke sana. Tujuan awal pilih Sawarna karena lokasi yang nggak begitu jauh dari Jakarta, dan selain itu biaya, dooonk. Yep, dengan harga paket enggak lebih dari gopek per orangnya, saya dan enam orang sahabat saya sudah tinggal duduk manis, menanti jemputan, nyampe homestay, dan ngikutin aa’-aa’ guide-nya ke sana dan ke mari. Makan disiapin, pula! 😀

Sebelum ke Sawarna, saya udah baca beberapa artikel yang bilang jalanan ke sana nggak begitu oke, dan emang nggak berlebihan, sih. Bahkan bisa dibilang, jalanan rusak parah. Hampir sepertiga dari perjalanan yang memakan waktu sekitar enam-delapan jam, kami terguncang-guncang hebat saking rusaknya jalan raya yang sebetulnya beraspal itu.

Desa Sawarna sendiri dipisahkan oleh sebuah jembatan bambu yang cukup serem juga, yak, untuk dilewatin. Mentok Cuma motor yang bisa melewati jembatan ini, jadi mobil yang mengantar kami brenti di sebuah lahan parkir di luar jembatan, dan kami memulai parade jalan kaki liburan kami di Sawarna. 😀

Destinasi kami cukup banyak. Hari pertama kami ke Goa Lalay dan Pantai Ciatir. Hari kedua kami ke Pantai Lagoon Pari. Selain itu juga banyak pantai-pantai yang kami lewati sepanjang penyusuran pantai, cuman, lupa namanya uy… >__<

Goa Lalay.

Lalay ini ternyata bahasa Sunda, artinya kelelawar. Jadi menurut guide kami, Kang Akeo, di bagian dalem gua ini banyak kelelawar-kelelawar kecilnya. Uwogh. Untungnya, kami nggak pake acara ketemu kelelawar. Dari homestay kami, Goa Lalay ini berjarak sekitar dua kilometer. Jarak yang cukup lumayan juga sih kalo buat saya yang nggak pernah olah raga ini, tapi untungnya Kang Akeo melewatkan perjalanan kami di pematang-pematang sawah yang menghampar hijau, jadi kami bisa main-main dan foto-foto. Kereeeeeeeeeen…

sawah di desa Sawarna

Iya, sih, di deket rumah saya di Jokja juga banyak sawah, tapi sawah-sawah di Sawarna ini ijonya nggak nahan. Ijoooooo banged. Bikin seger mata. Kata Dita, ngeliatin ijonya sawah kek gini bisa ngurangin minus, bener nggak, sih? Anggep aja bener, deh. Haha.

mejeng dulu di depan goa

mejeng dulu di depan goa

Sampe di depan goa, lumayan keder juga. Soalnya goanya gelap. (Yakalee di dalem goa dipasangin neon ato lampion?? -_-) Untung Kang Akeo bawain senter cukup gede. Sepertinya senter emang wajib dibawa kalo mau ke sini. Awal-awal masuk goa, airnya setinggi lutut, semakin ke dalem, airnya semakin tinggi, yang menurut Kang Akeo lagi bisa bertambah tinggi kalo pas musim penghujan.

Selain cukup tinggi, air di sini berarus. Salah satu temen saya, yang alih-alih pake sandal gunung malah pake sandal jepit, sempet (hampir) keilangan sandal jepit sebelah kanan-nya gara kebawa arus. Waaaks. Untung berhasil diselamatkan setelah hampir sepuluh menit berkutat di bagian goa yang rendah.

Goa Lalay sendiri panjangnya 1,5 km, tetapi yang bisa dilalui oleh pengunjung ‘biasa’ cuman 300 meter. Setelah itu, medan akan lebih susah, dengan arus yang lebih kuat dan ruang gerak yang semakin sempit. Selama jarak 300 meter ini, goa bener-bener tertutup tanpa ada celah cahaya sedikitpun., jadi memang nggak disarankan untuk masuk nggak bawa senter. Syukur-syukur bisa sama guide, karena beliau lebih berpengalaman untuk tau bagian mana yang lebih dalem, mana yang berlumpur, mana yang nggak rata, bagian mana yang bagus buat poto-poto (halah, teteuuub..)

Pantai Ciatir

Sore setelah pagi-siangnya kami main-main di Goa Lalay dan sawah-sawah, Kang Akeo mengajak kami main di Pantai Ciatir. Pantai ini nggak begitu jauh dari homestay kami, kira-kira jalan kaki lima belas menit udah sampe.

Begitu sampai di sana, cukup mengingatkan saya sama Pantai Depok di deket Parangtritis, di Jokja. Haha. Pasirnya putih, dan ombaknya cukup gedhe. Asik buat main air. Sudah lama saya nggak main di pantai sampe sebasah ini. Terakhir, sih, Februari, di Buli. 😛 (FYI aja, kok, bukan riya)

Pantai Ciatir, mirip Pantai Depok. hihi.

Pantai Ciatir, mirip Pantai Depok. hihi.

Jadi konon katanya, dulu Sawarna pertama kali ditemuin oleh turis dari Australia karena hobinya berselancar dan ombak di Ciatir ini emang mendukung banged buat main begituan. Jadi, dibangunlah villa di deket situ. Seiring semakin tenarnya Sawarna, penduduk sekitar pun ikutan membangun homestay dan penginapan.

Pantai Tanjung Layar

Karang di Pantai Tanjung Layar yang bentuknya mirip layar kapal

Karang di Pantai Tanjung Layar yang bentuknya mirip layar kapal

Ini pantai di mana kami menghabiskan senja kami di Sawarna. Pantainya lumayan berkarang, jadi nggak memungkinkan kami untuk main-main air di sini. Alternatifnya, nggak lain dan nggak bukan adalah foto-foto. Yeay! Haha.

Sunset di sini keren banged. Even the photos I uploaded here won’t tell a half from its beauty. 

Sunset di Pantai Tanjung Layar (1)

Sunset di Pantai Tanjung Layar (1)

Sunset di Pantai Tanjung Layar (2)

Sunset di Pantai Tanjung Layar (2)

Hebatnya, di sore menjelang malam itu, kami dapat matahari dan bulan di satu langit sekaligus. Heu.

Malem itu, setelah makan malam, kami balik lagi ke Pantai Ciatir, makan mi instan, ngobrol-ngobrol, dan main sobyong, disaksikan bulan penuh, diiringi suara ombak. Ishh… momen yang pasti akan sangat saya rindukan, kelak. :”D

Pantai Lagoon Pari

Pagi di hari keduanya, agenda kami adalah Pantai Lagoon Pari. Sejak sehari sebelumnya Kang Akeo sudah menyebutkan jarak yang harus kami tempuh untuk mencapainya; tiga kilometer. Ummm, okay…. -_-u Dan nggak Cuma tiga kilometer yang bikin berat, kami juga harus melewati perbukitan, pegunungan dengan jalan setapak mini yang sesekali diselingi dengan batu-batuan yang cukup licin.

Setelah kira-kira empat puluh lima menit berjalan, dengan beberapa kali istirahat, kami sampai di sebuah pantai penuh karang di mana ada beberapa orang yang lagi nongkrong. Saya kira itu pantai yang kami tuju dan sudah siap-siap kecewa karena mengira nggak akan bisa main air, ternyata saya salah. Begitu juga orang-orang yang lagi nongkrong itu, yang mengira sudah sampai di Lagoon Pari, padahal ternyata belum. Haha.

Kami masih berjalan dan mendaki lagi selama seperempat jam, menyusuri pantai dengan karang sampai akhirnya kami melihat tujuan kami; Pantai Lagoon pari.

Kalo ada yang bilang Paradise, pantai ini memang layak dibilang paradise. Pantai bersih, dengan pasir putih lembut, ombak yang cukup untuk bermain-main air maupun berenang. Bahkan garis pantainya terlihat sangat jelas, warna kehijauan dan kebiruan untuk bagian yang lebih dalam.

see the beauty of Lagoon Pari

see the beauty of Lagoon Pari

I couldn’t stand myself any longer sebelum akhirnya bener-bener mencelupkan seluruh badan ke dalam air.

Siang itu berasa lagi main di private beach, deh. Pantai sebagus dan seluas itu dan Cuma ada tiga gerombolan yang mengunjunginya. Kami jadi bebas sebebas-bebasnya, mau foto gaya lompat yang gagal terus, mau berkubang sambil luluran pake pasir, mau foto gaya merenung, BEBAAAAAS!! Dan semuanya bebas bocor ada orang di belakangnya. Ahahaha. Mantappp…

me in my private beach

me in my private beach

I gotta say this, that Lagoon Pari is the best beach I have ever visit!

Pantai ini yang bikin perjalanan saya kali ini sama sekali nggak rugi, yang bikin seluruh perjuangan kami menembus semak belukar nggak berasa, yang bikin panas yang menyengat kulit saya sepanjang perjalan terlupakan.

Hmmm, mungkin abis ini perlu bikin proposal untuk Ratu Atut atau siapa gitu untuk bikin kereta gantung menuju sini 😀

Tapiiii, saya jadi kepikiran, apa Sawarna bisa menjadi Paradise karena statusnya hiddennya? Apakah kalo dia nggak hidden lagi, begitupun dia nggak akan menjadi paradise lagi?

Ngenes, yak. Dilema antara pengin tempat sebagus ini bisa dinikmati sama lebih banyak orang lagi versus nggak pengin tempat sebagus ini dirusak dan dicemar oleh orang-orang yang banyak dateng kemari. Bisa nggak sih tempat wisata (di Indonesia terutama) terkenal dan banyak didatengin pengunjung, tetapi tetep bersih, asri, dan alami? Hmmm.. masih susah, ya, sepertinya.. ):

team Sawarna dari kiri ke kanan: Alban, @raditatanaya, @callmena, Reny, @anggisasi, @wikanpre, @henricusak \o/

team Sawarna dari kiri ke kanan: Alban, @raditatanaya, @callmena, Reny, @anggisasi, @wikanpre, @henricusak \o/

Tips ke sini:

1) kalo berangkat dari jakarta mending jangan cuma sehari, soalnya bakal capek di jalan dan nggak puas nikmatin pantainya

2) pake sendal gunung is a must! trackingnya lumayan juga, jadi kalo mau pake sendal jepit bahaya licin, trus bisa beseret arus juga pas main di goa 😀

3) bawa kamera underwater, karena poto-poto sambil main air kayaknya bakal seru, deh, daripada poto-poto sambil takut kamera basah

4) bawa senter buat ke goa



Advertisements

6 thoughts on “Sawarna, The Real Hidden Paradise

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s