Wisata Off-Road Merapi

Liburan kali ini sudah bertekad, pokoknya harus, paling enggak sekali, jalan-jalan sama keluarga yang nggak cuman makan. Iya, Lebaran kan biasanya cuman diisi ke sodara ini, sodara itu, makan bareng sama keluarga dari sini, atau ke mana. Padahal, di Jokja cukup buanyak tempat-tempat wisata yang belom pernah saya datengin. Hehe. Orang Jokja, tapi kurang piknik di Jokja. *blushing*

ini, nih, Narapao, si bayi kesayangan <3

ini, nih, Narapao, si bayi kesayangan ❤

Idealisme awal pas masih di Jakarta (belom berangkat mudik maksudnya), sih, pengin main paralayang di Parangtritis. Ahahahay. Setelah dipikir-pikir lagi, pantai di masa liburan pasti ruamenya minta ampun. Belom ada adek bayi kesayangan semua orang, si Narapao, ya kali ikut terbang juga, disuruh nungguin juga kesian. Caving di gua Pindul, main paintball pun dicoret dengan alesan yang sama.

Akhirnya saya menurunkan ekspektasi dengan rencana jalan-jalan ke Ulen Sentalu aja, museum di Kaliurang yang katanya sih keren, tetapi entah kakak saya, entah mamah, lupa, ngusulin untuk nyobain Lava Tour (juga di Kaliurang). Hmm… hayuk ajaa…

Jadi, dari Kalasan, kami menuju ke Tlogo Putri di Kaliurang. Sampai di sana, kami langsung menuju pusat informasi Lava Tour. Nggak susah ditemukan karena cukup besar dan mencolok, berlatar merah dengan huruf-huruf capital putih, kuning, dan hitam.

Yang lumayan bikin shocked adalah nomor antrian yang kami dapatkan; 63. Sementara, yang dipanggil baru sampai di nomor 48. Wauw! Ternyata banyak juga, ya, yang berminat muter-muter Merapi, padahal harga yang dipatok lumayan juga. Mereka menyediakan tiga paket, dengan harga termurah adalah sekitar tiga ratus ribu. Perbedaannya ada pada rute, semakin mahal tentunya semakin lengkap yang dikunjungi, dan yang pasti semakin lama. Untuk paket pertama, durasi yang dibutuhkan untuk keliling-keliling kira-kira satu jam setengah. Yang lainnya bisa dikira-kira sendiri kali, yaaa… 😛

Meskipun nomor antriannya cukup horror, ternyata jeep yang tersedia buanyak, ada sekitar 48. Kami jadi agak tenang, dan memang benar, nggak sampai setengah jam kemudian kami sudah dapat giliran. Yeay! Sebelum berangkat pose duluuuu…. 😀

pose dulu sebelum berangkat Lava Tour \o/

pose dulu sebelum berangkat Lava Tour \o/

Sebelum berangkat, salah satu adek saya nyeletuk begini,  “Lhah, emang ada bedanya, ya, keliling Merapi naik jeep?Kenapa nggak pake mobil sendiri aja?” Pas itu juga saya kepikiran, sih, dan pas menjalaninya baru bener-bener merasa bersyukur nggak naik mobil sendiri. Perjalanannya ternyata cukup sadis juga, yak. Rasanya kayak naik roller-coaster, dengan bonus debu dan angin yang menerpa keras ke muka, tapi dengan pemandangan khusus.

Yep, Lava Tour ini memang akan ceritanya menjamu pengunjung dengan pemandangan setelah erupsi Merapi di kawasan yang terkena dampaknya, yaitu Kali Kuning, bunker di Kaliadem, rumah warga yang terkena wedhus gembel yang kemudian dijadikan museum , desa Kinahrejo (desanya Mbah Maridjan), Batu Alien, dll.

Berikut beberapa foto-foto yang sempat saya ambil:

Adek pose di depan Museum Sisa Hartaku

Adek pose di depan Museum Sisa Hartaku

Museum Sisa Hartaku ini adalah salah satu rumah warga yang terkena erupsi Merapi. Di dalamnya kita bisa melihat saksi bisu dari wedhus  gembel, mulai dari benda-benda kecil seperti sendok, gelas, botol, teplok, sampai yang besar seperti monitor komputer dan televisi, motor, dan bahkan kerangka sapi. Bahkan rumahnya sendiri pun sudah tidak utuh bentuknya. It was really broke my heart. TT^TT

"bekas" monitor televisi dan komputer

“bekas” monitor televisi dan komputer

 

sisa meubel

sisa meubel

Perjalanan yang awalnya berjudul “jalan-jalan sore ceria bersama keluarga”, diwarnai dengan dag-dig-dug sepanjang perjalanan naik off-road yang mirip roller-coaster, mulai memilukan.

Kepedihan semakin terasa saat kami sampai di bunker di Kaliadem. Bunker ini diciptakan dengan tujuan untuk berlindung jika terjadi erupsi, dan memang akhirnya pada saat kejadian tahun 2010, beberapa orang yang tadinya dalam perjalanan memutuskan menggunakan bunker ini untuk berlindung. Meninggalkan sepeda motornya di depan dan masuk bunker, tetapi entah kenapa, panas erupsi Merapi melebihi kekuatan yang bisa ditahan bunker dan menyebabkan beberapa korban meninggal di dalam bunker. May they rest in peace.

Selama ini saya hanya mendengar cerita itu dari surat kabar dan media lain, tetapi sore itu, melihat sendiri tempat kejadian, rasanya jadi semakin miris. Bagian dalam bunker sangat gelap, disarankan untuk membawa senter jika ingin masuk.

Perjalanan kami sore itu ditutup dengan kunjungan ke batu alien. Jika sebelum-sebelumnya suasanaya sedikit suram dan mencekam, di sini berganti dengan takjub bercampur geli. Kami mendapat informasi bahwa yang akan kami kunjungi adalah batu besar yang datang dari Merapi, dan berbentuk mirip muka alien. Malah ada yang bilang bentuknya mirip dengan muka robot musuhnya Transformer. Lhah. Sampai di sana, kami langsung sibuk berputar-putar mengelilingi batu besar, mencari sudut yang dimaksud mirip dengan muka alien tersebut. Hihihi.

foto ini diambil setelah dua kali muterin batunya. mirip muka alien nggak?

foto ini diambil setelah dua kali muterin batunya. mirip muka alien nggak?

Kami tertolong dengan hasil mencuri dengar dari guide sebelah yang menunjukkan pada tamunya dan… voilla! Dapat juga bagian yang ditemukan. Hehehe. Well, mungkin sugesti juga, tapi… ya paling nggak ngerti lah, bagian mana aliennya 😀

Hampir dua jam perjalanan kami sore itu. Perjalanan off-road yang cukup mendebarkan, yang seakan mengingatkan kami (well, okay, saya pribadi, mungkin) betapa kecilnya manusia dibanding alam, dan apalagi Tuhan. Menyadarkan kami betapa murah hatinya Tuhan masih memberi kami kesempatan untuk hidup sampai detik ini. *gasp*

Tips untuk ikut Lava Tour ini:

1)      Masker is a must. Sepanjang jalan debu dan anginnya kenceng banged. Apalagi nggak semua jeep kaca depannya dipasang (kayak jeep kami kemarin), walhasil, tadaaaa… sesorean muka full diterjang debu. Ada, sih, yang jual, tapi kalo lagi nggak beruntung bisa keabisan. Sore itu kami baru nemu yang jual masker di Kaliadem, padahal track-track sebelumnya sudah sangat berdebu >__<

2)      Bawa senter, khusus buat yang mau masuk bunker. Kalo enggak masuk, paling cuman di depan, atau di atasnya juga menghampar pasir dan bebatuan luas yang bisa dipake foto-foto (halah). Selain itu, ada warung juga yang menjual pop-mie, minuman, dan makanan khas (jadah, ampyang, kopi Merapi, dll). Pas banged, tuh, dingin-dingin makan pop-mie. Nom nom.

3)      Iya, sih, kita enggak bisa milih mau naik jeep dan driver yang mana, tapi akan jauh lebih menyenangkan kalau driver dari jeep bisa sekalian menjadi guide. Driver kami sore itu adem-ayem aja dan hanya menjelaskan singkat kami di mana dan sudah. Sementara saya liat group-group yang lain ada yang ditemenin masuk ke dalamnya dan diceritain detil mengenai sejarah dan bla bla bla-nya. Hmmm, udah capek kali, ya. Kami sempet tanya, dalam sehari, beliau bisa 3-4 kali muter, dan dengan rute yang begitu… Hmmm… nggak heran, deh… #edisipositivethinking

4)      Bawa uang kecil. Di sepanjang jalan kita akan menemui banyak kotak-kotak sumbangan untuk dana operasional. Siapa tau, lebih banyak dukungan akan lebih bikin objek wisata yang satu ini lebih oke lagi (:

Lava Tour sudah, dan setelah terguncang-guncang selama hampir dua jam, it’s time for the poci khas Kaliurang! Yay! See ya! \o/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s